Showing posts with label Tokoh Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Tokoh Indonesia. Show all posts

Sunday, February 11, 2018

Biografi SAYUTI MELIK - Lengkap




Siapa itu Sayuti Melik? Sayuti Melik adalah tokoh Indonesia yang berperan dalam pencatatan hasil diskusi susunan teks proklamasi. Ia yang mengetikan teks proklamasi yang di bacakan oleh Soekarno-Hatta.

Muhamad Ibnu Sayuti, atau yang umum di panggil Sayuti Melik lahir di Yogyakarta tepatnya di Sleman pada tanggal 22 November 1908. Ia adalah anak dari kelapa desa sleman yaitu Abdul Mu'in alias Partoprawito dan Sumilah.

Dari sejak ia masih kecil, ayahnya sudah mengajarkan Sayuti tentang Nasionalisme. Saat itu, ia melihat langsung ayahnya yang berani menentang kebijakan pemerintah belanda yang memakai paksa sawah milik rakyat. Maka tidak heran jika nantinya Sayuti Melik tumbuh menjadi seorang yang berani menentang ketidak adilan. Ia siap meghardik melalui tulisan-tulisannya. Juga turun langsung ke ranah publik.

Sejak belia, Sayuti Melik sudah berminat pada isu-isu kebangsaan. Ia rajin membaca buku, koran, juga mengikuti acara diskusi yang menghadirkan tokoh berpengaruh. Pendiri Muhammadiyah, Kyai Haji Ahmad Dahlan, menjadi salah satu sosok panutannya saat itu. Terlebih, jarak rumahnya dengan markas Muhammadiyah di Kauman tidak terlalu jauh.

Seiring daya pikirnya yang kian kritis, Sayuti Melik mulai jenuh dengan ide-ide Ahmad Dahlan yang dianggapnya kurang menggigit.

“Lama-kelamaan saya tidak tertarik kepada Kyai Dahlan, karena menurut saya dia kurang progresif-revolusioner. Akhirnya saya tinggalkan Kyai Dahlan, dan saya berguru kepada Haji Misbach,” ucapnya.

Haji Misbach adalah seorang ulama terkenal dari Solo yang beraliran kiri. Pada 1920, Sayuti Melik sekolah di Solo dan mulai mengenal haji merah itu lewat tulisan-tulisannya di majalah Islam Bergerak atau Medan Moeslimin. Di kota itu pula, Sayuti Melik memperoleh tambahan wawasan nasionalisme dari gurunya yang justru orang Belanda, H.A. Zurink.

Dari sinilah Sayuti Melik semakin tertarik pada sosialisme, komunisme, Marxisme, dan seterusnya. Waktu itu, hal-hal beraroma merah belum “diharamkan”, bahkan menjadi salah satu ujung tombak perlawanan terhadap kolonial. Sayuti Melik pun menuliskan pemikirannya dan mengirimkan artikel ke berbagai surat kabar yang terbit di tanah air.

Tulisan dan pergerakan Sayuti Melik yang masif membawanya ke jeruji besi pada usia 16 tahun. Pada 1924, ia menjadi tahanan kolonial di Ambarawa, Jawa Tengah, dengan tuduhan telah menghasut rakyat untuk melawan pemerintah (Arief Priyadi, Wawancara dengan Sayuti Melik, 1986:29).

Dua tahun berselang, ia kena masalah lagi, kali ini lebih serius, dituding terlibat aksi perlawanan—atau dalam sudut pandang pemerintah kolonial: pemberontakan—Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1926. Tak hanya dibui, Sayuti Melik juga turut dibuang ke Boven Digul, Papua, bersama orang-orang PKI (Audrey Kahin, Regional Dynamics of The Indonesian Revolution, 1985:37).

Sayuti Melik baru pulang ke Jawa pada 1933. Namun, tiga tahun kemudian ia dijebloskan lagi ke bui. Sayuti Melik yang saat itu merantau ke Singapura ditangkap pemerintah kolonial Inggris di sana karena dicurigai terlibat dalam gerakan bawah tanah.

Kembali ke tanah air pada 1937, Sayuti Melik bertemu dengan S.K. Trimurti, seorang jurnalis perempuan sekaligus aktivis pergerakan nasional yang juga keluar-masuk penjara sebelum masa itu dan setelahnya. Mereka menikah pada 1938 dan menerbitkan koran Pesat di Semarang.

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, Sayuti Melik dan Trimurti juga tak luput dari tekanan. Pesat diberangus oleh Jepang karena dianggap berbahaya. Trimurti dibui, sedangkan Sayuti ditangkap karena dituding sebagai komunis (Rosihan Anwar, Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia, Volume 3, 2004:254).

Tahun 1943, Trimurti dibebaskan atas permintaan Sukarno. Sayuti Melik dan istrinya pun sempat hidup tenang karena dekat dengan Sukarno yang dikenalnya sejak 1926. Kelak, Sayuti Melik tergabung dalam kelompok Menteng 31 yang membawa Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945. Sehari kemudian, Indonesia merdeka dan teks proklamasi kemerdekaan itu diketik oleh Sayuti Melik.

Meskipun turut berperan dalam upaya kemerdekaan, menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), serta cukup dekat dengan Sukarno sebagai presiden pertama Republik Indonesia, tapi Sayuti Melik tetap saja tidak sepenuhnya merasa merdeka.

Belum genap setahun Indonesia merdeka, Sayuti Melik ditangkap oleh pemerintah RI atas perintah Amir Syarifudin yang kala itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan dengan tuduhan terlibat dalam Peristiwa 3 Juli 1946 yang disebut-sebut sebagai upaya makar pertama pasca-kemerdekaan (Yuanda Zara, Peristiwa 3 Juli 1946: Menguak Kudeta Pertama dalam Sejarah Indonesia. 2009:190).

Lantaran tidak terbukti bersalah setelah diperiksa oleh Mahkamah Tentara, Sayuti Melik lepas dari dakwaan. Kemudian, ia turut berjuang untuk republik melawan Belanda yang ingin berkuasa kembali di Indonesia. Pada 1948, Sayuti Melik ditangkap Belanda, ditahan di Ambarawa, dan baru bebas jelang penyerahan kedaulatan pada 1950.

Kehidupan Sayuti Melik setelah Indonesia sepenuhnya berdaulat ternyata tak kunjung tenteram. Sempat dekat dengan Sukarno, ia justru berbalik melawan dan menentang gagasan sang putra fajar tentang Nasionalisme, Agama, dan Komunisme (Nasakom). Sayuti Melik menuntut “Komunisme” diganti dengan “Sosialisme,” sehingga "Nasakom" seharusnya berganti menjadi "Nasasos" (Soegiarso Soerojo, Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai, 1988:108).

Sayuti Melik juga sangat tidak setuju jika Sukarno menjadi presiden seumur hidup (Tempo, Volume 19, 1989). Lewat tulisan “Belajar Memahami Sukarnoisme” yang dimuat di puluhan media massa, ia memaparkan perbedaan Marhaenisme Sukarno dengan doktrin komunisme ala PKI. Sayuti Melik menyerang PKI—yang dulu pernah dibelanya—yang dianggapnya kerap menjilat sang penguasa.

Sejak saat itu, Sayuti Melik terkesan diabaikan oleh rezim Sukarno. Namun, saat rezim berganti dan Soeharto mengambil tampuk kepemimpinan, Sayuti justru mendapat perlindungan dari Orde Baru.

Aroma kiri yang pernah lekat pada diri Sayuti Melik ternyata dimaafkan. Pemilu 1971 dan 1977 bahkan menempatkannya sebagai anggota DPR/MPR dari Fraksi Golkar yang tidak lain adalah representasi dari kekuasaan Soeharto selama Orde Baru berjaya (Jailani Sitohang, Gaya Kepemimpinan Sukarno-Suharto, 1989: 55).

Hidup nyaman di era emas Orde Baru setelah melalui masa muda dari penjara ke penjara, Sayuti Melik meninggal dunia di Jakarta pada 27 Februari 1989 dalam usia 80 tahun. Soeharto selaku presiden datang melayat sang juru ketik proklamasi yang telah menjalani kehidupan penuh intrik dan polemik ini.


Sumber :
Tokoh IndonesiaAssalamualaikum Wr Wb, Hallo Kawan - kawan Hobbyku Desain | TrendingKita | Tutorial Desain Dan Blog, Pada Artikel yang kami buat dan juga anda baca kali ini dengan judul Tokoh Indonesia, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan Artikel Biografi, Artikel Sejarah, Artikel Tokoh Indonesia, yang kami tulis ini dapat anda pahami dan juga bermanfaat.

Download Kumpulan Wallpaper Mobile Legends di MasMochen

Judul Artikel: Biografi SAYUTI MELIK - Lengkap
link : Biografi SAYUTI MELIK - Lengkap

Baca juga


Tokoh Indonesia




Siapa itu Sayuti Melik? Sayuti Melik adalah tokoh Indonesia yang berperan dalam pencatatan hasil diskusi susunan teks proklamasi. Ia yang mengetikan teks proklamasi yang di bacakan oleh Soekarno-Hatta.

Muhamad Ibnu Sayuti, atau yang umum di panggil Sayuti Melik lahir di Yogyakarta tepatnya di Sleman pada tanggal 22 November 1908. Ia adalah anak dari kelapa desa sleman yaitu Abdul Mu'in alias Partoprawito dan Sumilah.

Dari sejak ia masih kecil, ayahnya sudah mengajarkan Sayuti tentang Nasionalisme. Saat itu, ia melihat langsung ayahnya yang berani menentang kebijakan pemerintah belanda yang memakai paksa sawah milik rakyat. Maka tidak heran jika nantinya Sayuti Melik tumbuh menjadi seorang yang berani menentang ketidak adilan. Ia siap meghardik melalui tulisan-tulisannya. Juga turun langsung ke ranah publik.

Sejak belia, Sayuti Melik sudah berminat pada isu-isu kebangsaan. Ia rajin membaca buku, koran, juga mengikuti acara diskusi yang menghadirkan tokoh berpengaruh. Pendiri Muhammadiyah, Kyai Haji Ahmad Dahlan, menjadi salah satu sosok panutannya saat itu. Terlebih, jarak rumahnya dengan markas Muhammadiyah di Kauman tidak terlalu jauh.

Seiring daya pikirnya yang kian kritis, Sayuti Melik mulai jenuh dengan ide-ide Ahmad Dahlan yang dianggapnya kurang menggigit.

“Lama-kelamaan saya tidak tertarik kepada Kyai Dahlan, karena menurut saya dia kurang progresif-revolusioner. Akhirnya saya tinggalkan Kyai Dahlan, dan saya berguru kepada Haji Misbach,” ucapnya.

Haji Misbach adalah seorang ulama terkenal dari Solo yang beraliran kiri. Pada 1920, Sayuti Melik sekolah di Solo dan mulai mengenal haji merah itu lewat tulisan-tulisannya di majalah Islam Bergerak atau Medan Moeslimin. Di kota itu pula, Sayuti Melik memperoleh tambahan wawasan nasionalisme dari gurunya yang justru orang Belanda, H.A. Zurink.

Dari sinilah Sayuti Melik semakin tertarik pada sosialisme, komunisme, Marxisme, dan seterusnya. Waktu itu, hal-hal beraroma merah belum “diharamkan”, bahkan menjadi salah satu ujung tombak perlawanan terhadap kolonial. Sayuti Melik pun menuliskan pemikirannya dan mengirimkan artikel ke berbagai surat kabar yang terbit di tanah air.

Tulisan dan pergerakan Sayuti Melik yang masif membawanya ke jeruji besi pada usia 16 tahun. Pada 1924, ia menjadi tahanan kolonial di Ambarawa, Jawa Tengah, dengan tuduhan telah menghasut rakyat untuk melawan pemerintah (Arief Priyadi, Wawancara dengan Sayuti Melik, 1986:29).

Dua tahun berselang, ia kena masalah lagi, kali ini lebih serius, dituding terlibat aksi perlawanan—atau dalam sudut pandang pemerintah kolonial: pemberontakan—Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1926. Tak hanya dibui, Sayuti Melik juga turut dibuang ke Boven Digul, Papua, bersama orang-orang PKI (Audrey Kahin, Regional Dynamics of The Indonesian Revolution, 1985:37).

Sayuti Melik baru pulang ke Jawa pada 1933. Namun, tiga tahun kemudian ia dijebloskan lagi ke bui. Sayuti Melik yang saat itu merantau ke Singapura ditangkap pemerintah kolonial Inggris di sana karena dicurigai terlibat dalam gerakan bawah tanah.

Kembali ke tanah air pada 1937, Sayuti Melik bertemu dengan S.K. Trimurti, seorang jurnalis perempuan sekaligus aktivis pergerakan nasional yang juga keluar-masuk penjara sebelum masa itu dan setelahnya. Mereka menikah pada 1938 dan menerbitkan koran Pesat di Semarang.

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, Sayuti Melik dan Trimurti juga tak luput dari tekanan. Pesat diberangus oleh Jepang karena dianggap berbahaya. Trimurti dibui, sedangkan Sayuti ditangkap karena dituding sebagai komunis (Rosihan Anwar, Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia, Volume 3, 2004:254).

Tahun 1943, Trimurti dibebaskan atas permintaan Sukarno. Sayuti Melik dan istrinya pun sempat hidup tenang karena dekat dengan Sukarno yang dikenalnya sejak 1926. Kelak, Sayuti Melik tergabung dalam kelompok Menteng 31 yang membawa Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945. Sehari kemudian, Indonesia merdeka dan teks proklamasi kemerdekaan itu diketik oleh Sayuti Melik.

Meskipun turut berperan dalam upaya kemerdekaan, menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), serta cukup dekat dengan Sukarno sebagai presiden pertama Republik Indonesia, tapi Sayuti Melik tetap saja tidak sepenuhnya merasa merdeka.

Belum genap setahun Indonesia merdeka, Sayuti Melik ditangkap oleh pemerintah RI atas perintah Amir Syarifudin yang kala itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan dengan tuduhan terlibat dalam Peristiwa 3 Juli 1946 yang disebut-sebut sebagai upaya makar pertama pasca-kemerdekaan (Yuanda Zara, Peristiwa 3 Juli 1946: Menguak Kudeta Pertama dalam Sejarah Indonesia. 2009:190).

Lantaran tidak terbukti bersalah setelah diperiksa oleh Mahkamah Tentara, Sayuti Melik lepas dari dakwaan. Kemudian, ia turut berjuang untuk republik melawan Belanda yang ingin berkuasa kembali di Indonesia. Pada 1948, Sayuti Melik ditangkap Belanda, ditahan di Ambarawa, dan baru bebas jelang penyerahan kedaulatan pada 1950.

Kehidupan Sayuti Melik setelah Indonesia sepenuhnya berdaulat ternyata tak kunjung tenteram. Sempat dekat dengan Sukarno, ia justru berbalik melawan dan menentang gagasan sang putra fajar tentang Nasionalisme, Agama, dan Komunisme (Nasakom). Sayuti Melik menuntut “Komunisme” diganti dengan “Sosialisme,” sehingga "Nasakom" seharusnya berganti menjadi "Nasasos" (Soegiarso Soerojo, Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai, 1988:108).

Sayuti Melik juga sangat tidak setuju jika Sukarno menjadi presiden seumur hidup (Tempo, Volume 19, 1989). Lewat tulisan “Belajar Memahami Sukarnoisme” yang dimuat di puluhan media massa, ia memaparkan perbedaan Marhaenisme Sukarno dengan doktrin komunisme ala PKI. Sayuti Melik menyerang PKI—yang dulu pernah dibelanya—yang dianggapnya kerap menjilat sang penguasa.

Sejak saat itu, Sayuti Melik terkesan diabaikan oleh rezim Sukarno. Namun, saat rezim berganti dan Soeharto mengambil tampuk kepemimpinan, Sayuti justru mendapat perlindungan dari Orde Baru.

Aroma kiri yang pernah lekat pada diri Sayuti Melik ternyata dimaafkan. Pemilu 1971 dan 1977 bahkan menempatkannya sebagai anggota DPR/MPR dari Fraksi Golkar yang tidak lain adalah representasi dari kekuasaan Soeharto selama Orde Baru berjaya (Jailani Sitohang, Gaya Kepemimpinan Sukarno-Suharto, 1989: 55).

Hidup nyaman di era emas Orde Baru setelah melalui masa muda dari penjara ke penjara, Sayuti Melik meninggal dunia di Jakarta pada 27 Februari 1989 dalam usia 80 tahun. Soeharto selaku presiden datang melayat sang juru ketik proklamasi yang telah menjalani kehidupan penuh intrik dan polemik ini.


Sumber :

Wednesday, January 10, 2018

Fiersa Besari - Sang Panutan

Penasaran dengan Fiersa Besari? Sosok petualang, musisi, dan penulis yang di gemari banyak orang yang biasa di panggil "Bung". Dengan peggemarnya yang dari berbagai usia dan berbagai daerah.

Hobi saya adalah membaca buku, terkhusus novel. Dan pertama kali saya mengetahui fiersa adalah saat saudari saya (Mba Aisya) meminjamkan sebuah karangan buku berjudul "Konspirasi Alam Semesta" ciptaan Bung Fiersa Besari. Dengan suguhan lirik-lirik lagu yang terdapat barkode musik di dalamnya. Saya pun penasaran dengan sosok nya yang puitis, dan bisa mendeskripsikan alam dengan se-nyata itu. Saya mulai mencari cari informasi melalu google, instagram, twitter, soundclod dan lain sebagainya mengenai Fiersa. Yang kemudian saya rangkum disini.

Fiersa Besari adalah musisi asal Bandung yang lahir pada tanggal 3 Maret. Pada tahun 2009, Kecintaan nya pada musik menjadikan dirinya membuat sebuah studio komersil yang bernama Tracking Away (tetapi sekarang sudah ditutup). Disanalah pula ia merekam karya-karyanya. Bung pun menyebarkan lagu lagu hasil rekamannya di https://soundcloud.com/fiersabesari. Bung pernah membuat statement di salah satu acara di televisi swasta bahwa ciri khas dari lagu-lagunya ialah diiringi dengan petikan gitar akustik.

Pada tahun 2012, Bung membuat sebuah album pertamanya yaitu "11:11" sebelum mengalami fase patah hati dan akhirnya berkelana keliling Indonesia selama tujuh bulan untuk mencari jati diri.

Pada tahun 2013 barulah Bung berkelana menjelajah Indonesia selama 7 bulan dari bulan April sampai November. Dan merilis album "Tempat Aku Pulang" yang di produksi oleh Ruangan Imajinasi 

Pada tahun 2014, Bung membuat kelompok musik "Kerabat Kerja" yang sekarang masih aktif manggung.

Pada tahun 2015, Bung menggagas komunitas "Pecandu Buku" dan merilis Album nya lagu yaitu "Konspirasi Alam Semesta". Ia juga membuat BVNG (clothing bermuatan kata-kata bijak)

Tahun 2016, buku "Garis Waktu" yang ia tulis diterbitkan oleh penerbit Media Kita. Dan disusul dengan terbitnya "Konspirasi Alam Semesta" di tahun 2017.

Ia juga memposting rekaman perjalanan ia menjelajah Indonesia di youtube https://www.youtube.com/user/fiersabesari  yang ia rangkum sehingga menjadi sebuah Jurnal indah yang mengajak kita untuk lebih mengenal indahnya indonesia. Pelajaran juga banyak didapat darinya tentang kebudayaan, tentang cara sopan mengkritik, menghargai karya, dan lain sebagainya.

Sumber :
Tokoh IndonesiaAssalamualaikum Wr Wb, Hallo Kawan - kawan Hobbyku Desain | TrendingKita | Tutorial Desain Dan Blog, Pada Artikel yang kami buat dan juga anda baca kali ini dengan judul Tokoh Indonesia, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan Artikel Biografi, Artikel Fiersa Besari, Artikel Tokoh Indonesia, yang kami tulis ini dapat anda pahami dan juga bermanfaat.

Download Kumpulan Wallpaper Mobile Legends di MasMochen

Judul Artikel: Fiersa Besari - Sang Panutan
link : Fiersa Besari - Sang Panutan

Baca juga


Tokoh Indonesia

Penasaran dengan Fiersa Besari? Sosok petualang, musisi, dan penulis yang di gemari banyak orang yang biasa di panggil "Bung". Dengan peggemarnya yang dari berbagai usia dan berbagai daerah.

Hobi saya adalah membaca buku, terkhusus novel. Dan pertama kali saya mengetahui fiersa adalah saat saudari saya (Mba Aisya) meminjamkan sebuah karangan buku berjudul "Konspirasi Alam Semesta" ciptaan Bung Fiersa Besari. Dengan suguhan lirik-lirik lagu yang terdapat barkode musik di dalamnya. Saya pun penasaran dengan sosok nya yang puitis, dan bisa mendeskripsikan alam dengan se-nyata itu. Saya mulai mencari cari informasi melalu google, instagram, twitter, soundclod dan lain sebagainya mengenai Fiersa. Yang kemudian saya rangkum disini.

Fiersa Besari adalah musisi asal Bandung yang lahir pada tanggal 3 Maret. Pada tahun 2009, Kecintaan nya pada musik menjadikan dirinya membuat sebuah studio komersil yang bernama Tracking Away (tetapi sekarang sudah ditutup). Disanalah pula ia merekam karya-karyanya. Bung pun menyebarkan lagu lagu hasil rekamannya di https://soundcloud.com/fiersabesari. Bung pernah membuat statement di salah satu acara di televisi swasta bahwa ciri khas dari lagu-lagunya ialah diiringi dengan petikan gitar akustik.

Pada tahun 2012, Bung membuat sebuah album pertamanya yaitu "11:11" sebelum mengalami fase patah hati dan akhirnya berkelana keliling Indonesia selama tujuh bulan untuk mencari jati diri.

Pada tahun 2013 barulah Bung berkelana menjelajah Indonesia selama 7 bulan dari bulan April sampai November. Dan merilis album "Tempat Aku Pulang" yang di produksi oleh Ruangan Imajinasi 

Pada tahun 2014, Bung membuat kelompok musik "Kerabat Kerja" yang sekarang masih aktif manggung.

Pada tahun 2015, Bung menggagas komunitas "Pecandu Buku" dan merilis Album nya lagu yaitu "Konspirasi Alam Semesta". Ia juga membuat BVNG (clothing bermuatan kata-kata bijak)

Tahun 2016, buku "Garis Waktu" yang ia tulis diterbitkan oleh penerbit Media Kita. Dan disusul dengan terbitnya "Konspirasi Alam Semesta" di tahun 2017.

Ia juga memposting rekaman perjalanan ia menjelajah Indonesia di youtube https://www.youtube.com/user/fiersabesari  yang ia rangkum sehingga menjadi sebuah Jurnal indah yang mengajak kita untuk lebih mengenal indahnya indonesia. Pelajaran juga banyak didapat darinya tentang kebudayaan, tentang cara sopan mengkritik, menghargai karya, dan lain sebagainya.

Sumber :

Sunday, January 7, 2018

Onno Widodo Purbo - Salah Satu Tokoh IT Indonesia

Gambar terkait

Masih ingat dengan postingan kedua saya?  Postingan yang membahas tentang 5 tokoh IT di Indonesia. Dan salah satunya adalah Onno Widodo Purbo.

Onno Widodo Purbo adalah seorang tokoh dan pakar di bidang Teknologi Informasi yang tentunya berasal dari Indonesia. Onno Lahir di Bandung pada tanggal 17 Agustus tahun 1962. Oh iya, selain pakar, Onno juga dikenal sebagai penulis, pendidik, dan pembicara seminar

Karya inovatif Onno diantaranya adalah Wajanbolic, sebagai upaya koneksi internet murah tanpa kabel dan RT/RW-Net sebagai jaringan komputer swadaya masyarakat untuk menyebarkan internet murah, serta penerapan Open BTS

Pada Tahun 1981, Ia memulai pendidikan akademis di ITB pada jurusan Teknik Elektro dan lulus dengan predikat wisudawan terbaik, setelah itu studi ke Kanada dengan beasiswa dari PAUME. Pada Tahun 2013, Ia bergabung sebagai dosen di Surya University, universitas yang didirikan oleh fisikawan; Prof. Yohanes Surya, Ph.D.

Saat ini sebagai penulis bebas dimana ratusan tulisan-tulisannya telah menghiasi berbagai media massa, majalah, seminar, workshop dan konferensi nasional maupun internasional. Juga aktif memberikan tutorial ke berbagai universitas dan pendidikan tinggi dalam tema Linux, Wireless LAN, dan VOIP.




Penghargaan yang di raih oleh Onno atara lain adalah :


  • 1987, Lulusan Terbaik, Jurusan Teknik Elektro, Institut Teknologi Bandung.
  • 1992, Masuk dalam buku "American Men and Women of Science", R.R.Bowker, New York (Amerika Serikat).
  • 1994, Profil Peneliti, KOMPAS 26 Desember 1994.
  • 1996, Menerima "Adhicipta Rekayasa", dari Persatuan Insinyur Indonesia.
  • 1997, Menerima "ASEAN Outstanding Engineering Achievement Award", dari ASEAN Federation of Engineering Organization (AFEO)
  • 2000, Masuk dalam buku "Indonesia Abad XXI: Di Tengah Kepungan Perubahan Global", Editor Ninok Leksono, KOMPAS.
  • 2000, Award for Indonesian Internet Figure, KADIN Telematika Award.
  • 2002, Eisenhower Fellow, dari Eisenhower Fellowship (Amerika Serikat).[9]
  • 2003, Sabbatical Award, dari International Development Research Center (IDRC) (Kanada).[10]
  • 2005, Ashoka Senior Fellow, dari Ashoka (Amerika Serikat).
  • 2008, Menerima "Gadget Award Exclusive Appreciation", dari Majalah Gadget.
  • 2008, Menerima "IGOS Summit 2 Award", dari Menkominfo "Atas Semangat dan Perjuangan menyebarluaskan pemanfaatan Open Source di Indonesia.
  • 2008, Masuk dalam buku "Indonesia 100 Innovators", Business Innovation Center.
  • 2008, Menerima Gelar "Pahlawan Generasi Masa Kini" dari Modernisator.
  • 2009, Indigo Fellow: Digital Community Fellow, dari PT Telekomunikasi Indonesia.
  • 2009, Anugerah "TIRTO ADHI SOERJO" kategori Pelopor / Pemulai, dari Indonesia Buku.[14]
  • 2009, Anugerah "Competency Award 2009" dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).[15]
  • 2010, Anugerah "Tasrif Award" dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI).[16]
  • 2014, Ganesha Innovation Championship Awards (GICA) 2014 [17]
  • 2015, Penerima PIAGAM INTERNET Dalam MUNAS APJII VIII 2015.
Itulah ulasan singkat mengenai Onno Widodo Purbo.
Tokoh IndonesiaAssalamualaikum Wr Wb, Hallo Kawan - kawan Hobbyku Desain | TrendingKita | Tutorial Desain Dan Blog, Pada Artikel yang kami buat dan juga anda baca kali ini dengan judul Tokoh Indonesia, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan Artikel Biografi, Artikel Tokoh Indonesia, yang kami tulis ini dapat anda pahami dan juga bermanfaat.

Download Kumpulan Wallpaper Mobile Legends di MasMochen

Judul Artikel: Onno Widodo Purbo - Salah Satu Tokoh IT Indonesia
link : Onno Widodo Purbo - Salah Satu Tokoh IT Indonesia

Baca juga


Tokoh Indonesia

Gambar terkait

Masih ingat dengan postingan kedua saya?  Postingan yang membahas tentang 5 tokoh IT di Indonesia. Dan salah satunya adalah Onno Widodo Purbo.

Onno Widodo Purbo adalah seorang tokoh dan pakar di bidang Teknologi Informasi yang tentunya berasal dari Indonesia. Onno Lahir di Bandung pada tanggal 17 Agustus tahun 1962. Oh iya, selain pakar, Onno juga dikenal sebagai penulis, pendidik, dan pembicara seminar

Karya inovatif Onno diantaranya adalah Wajanbolic, sebagai upaya koneksi internet murah tanpa kabel dan RT/RW-Net sebagai jaringan komputer swadaya masyarakat untuk menyebarkan internet murah, serta penerapan Open BTS

Pada Tahun 1981, Ia memulai pendidikan akademis di ITB pada jurusan Teknik Elektro dan lulus dengan predikat wisudawan terbaik, setelah itu studi ke Kanada dengan beasiswa dari PAUME. Pada Tahun 2013, Ia bergabung sebagai dosen di Surya University, universitas yang didirikan oleh fisikawan; Prof. Yohanes Surya, Ph.D.

Saat ini sebagai penulis bebas dimana ratusan tulisan-tulisannya telah menghiasi berbagai media massa, majalah, seminar, workshop dan konferensi nasional maupun internasional. Juga aktif memberikan tutorial ke berbagai universitas dan pendidikan tinggi dalam tema Linux, Wireless LAN, dan VOIP.




Penghargaan yang di raih oleh Onno atara lain adalah :


  • 1987, Lulusan Terbaik, Jurusan Teknik Elektro, Institut Teknologi Bandung.
  • 1992, Masuk dalam buku "American Men and Women of Science", R.R.Bowker, New York (Amerika Serikat).
  • 1994, Profil Peneliti, KOMPAS 26 Desember 1994.
  • 1996, Menerima "Adhicipta Rekayasa", dari Persatuan Insinyur Indonesia.
  • 1997, Menerima "ASEAN Outstanding Engineering Achievement Award", dari ASEAN Federation of Engineering Organization (AFEO)
  • 2000, Masuk dalam buku "Indonesia Abad XXI: Di Tengah Kepungan Perubahan Global", Editor Ninok Leksono, KOMPAS.
  • 2000, Award for Indonesian Internet Figure, KADIN Telematika Award.
  • 2002, Eisenhower Fellow, dari Eisenhower Fellowship (Amerika Serikat).[9]
  • 2003, Sabbatical Award, dari International Development Research Center (IDRC) (Kanada).[10]
  • 2005, Ashoka Senior Fellow, dari Ashoka (Amerika Serikat).
  • 2008, Menerima "Gadget Award Exclusive Appreciation", dari Majalah Gadget.
  • 2008, Menerima "IGOS Summit 2 Award", dari Menkominfo "Atas Semangat dan Perjuangan menyebarluaskan pemanfaatan Open Source di Indonesia.
  • 2008, Masuk dalam buku "Indonesia 100 Innovators", Business Innovation Center.
  • 2008, Menerima Gelar "Pahlawan Generasi Masa Kini" dari Modernisator.
  • 2009, Indigo Fellow: Digital Community Fellow, dari PT Telekomunikasi Indonesia.
  • 2009, Anugerah "TIRTO ADHI SOERJO" kategori Pelopor / Pemulai, dari Indonesia Buku.[14]
  • 2009, Anugerah "Competency Award 2009" dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).[15]
  • 2010, Anugerah "Tasrif Award" dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI).[16]
  • 2014, Ganesha Innovation Championship Awards (GICA) 2014 [17]
  • 2015, Penerima PIAGAM INTERNET Dalam MUNAS APJII VIII 2015.
Itulah ulasan singkat mengenai Onno Widodo Purbo.